Total Tayangan Halaman

Rabu, 09 Desember 2015

Psikologi Pendidikan BahanJadi Baku jadi Makalah Jadi Psikologi Pendidikan islam Ridwan, MA

Individuasi dan Perkembangan dalam Pembinaan Akhlak
BAB I
PENDAHULUAN
Rata-rata binatang beberapa saat setelah lahir sudah bisa mandiri, seekor bayi sapi yang kira-kira 4 jam setelah lahir sudah berusaha berdiri dan lari dengan induknya. Bayi reptil begitu menetas sudah bisa berenang dan berlari-lari. Semua bayi ini, biarpun sudah bisa lari tetapi mereka tetap bermain-main. Masa bermain ini merupakan masa mereka berlatih, menguatkan tulang dan belajar keahlian yang mereka butuhkan untuk masa dewasa mereka kelak ketika mereka harus mandiri.
Mengapa manusia masa kanak-kanaknya sangat lama, apakah karena keahlian yang harus mereka kembangkan kelak juga jauh lebih rumit daripada sekedar mencari, dan memburu makanannya sehingga masa bermainnyapun lebih lama daripada mahluk lain.
Dalam makalah ini penulis mebahas makalah ini tiga bagian, bagian pertama  pendahuluan, bagian kedua konsep perkembangan manusia  secara umum mulai dari bayi hingga lanjut usia, namun penulis hanya mengkhususkan analisisnya pada tahap perkembangan mengikuti pendidikan formal pada akhir bagian kedua. Selanjutnya bagian ketiga yaitu bagian penutup.




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Individuasi Dan Perkembangan Dalam Pembelajaran di Kelas
Individuasi dalam kebutuhan untuk menjadi berbeda dengan orang lain Dalam beberapa hal; Menurut psikolog Jung (2009:47) individuasi dalam proses integrasi psikologi untuk pengembangan kepribadian individu. Sedangkan menurut Baron (2004:65) individuasi dalam proses membentuk konsepsi dari ketidaksadaran yang dibutuhkan secara filogenetis yang diisi dengan libido non-seksual, tipe umum introversi dan ekstroversi, dan pendekatan sintetis dan konstruktif kepada formasi fantasi dan utilisasi.
Freud (1998) melihat perkembangan manusia sebagai sebuah evolusi Dalam bentuk perkembangan individu. Menurutnya dorongan utama Dalam diri manusia, yaitu energi seksual, merupakan sebuah proses evolusi sejak kelahiran hingga masa puber dan dewasa Dalam kehidupan masing-masing individu. Libido manusia juga mengalami perkembangan Dalam berbagai tahap mulai dari tahapan mengisap dan menggigit pada masa bayi, masa pengeluaran sekresi dan saluran kencing, dan berakhir pada organ-organ genital. Libido punya potensi yang sama, namun punya manifestasi yang berbeda-beda dan mengalami perubahan sesuai proses evolusi pada masing-masing individu. Perubahan dari energi seksual menjadi energi nonseksual disebutnya sebagai sublimasi. Semakin cepat dan besar perkembangan peradaban akan semakin tinggi harkat manusia namun semakin besar pula penekanan yang dilakukan manusia terhadap dorongan-dorongan libidonya.
Freud mengasumsikan bahwa libido atau energi seksual individu selalu mengalami perkembangan Dalam tahap-tahap mulai oral hingga genital. Jadi menurut Freud, individu yang sehat dalamereka yang sudah mencapai tingkatan genital tanpa mengalami fiksasi dan kemunduran. Individu seperti inilah yang bisa menjalani kehidupan sebagai orang dewasa, bekerja dan memperoleh kepuasan seksual yang memadai hingga ia menghasilkan keturunan.
Berbeda dengan Erickson (1998) meskipun pemikiran Erickson banyak dipengaruhi oleh pemikiran Freud, namun Erickson lebih berkonsentrasi pada pengaruh lingkungan sosial pada perkembangan kepribadian manusia, itulah sebabnya teori perkembangannya disebut psikososial.

B.  Fase Emerging Self (diri muncul) 0-2
Kemampuan mental manusia muncul di tahap tertentu Dalam proses perkembangan yang dilalui terjadi perubahan dari satu peringkat keperingkat lainnya. Hal ini hanya berlaku apabila anak-anak mencapai tahap kematangan yang sesuai. Tanpa pengalaman-pengalaman tersebut, anak-anak dianggap tidak mampu mencapai tahap perkembangan kognitif yang tinggi.
Fase cognitive ini Menurut Piaget (1998) disebut Tahap Sensorimotor (0-2 Tahun). Pada tahap ini, bayi melihat hubungan antara badannya dengan alam sekitar. Bayi tersebut mempelajari tentang dirinya dengan melihat, menyentuh, dan mendengar di sekelilingnya kemudian menirunya. Kebolehan untuk meniru tingkah laku dikenali sebagai pembelajaran melalui pemerhatian (observational learning).
Mussen dan Kagan (1998) Dalam perkembangan sensorimotor ini, terdapat enam sub tahap yang dikategorikan dengan melihat perkembangan kebolehan tertentu pada umur yang tertentu.
a)                       Dari lahir 0-1 Bulan (refleks)
Bayi hanya mampu melakukan gerakan pantulan. Gerakan pantulan yang diwujudkan lahir melalui tingkah laku pendengaran, penyusunan, gerakan tangan (genggaman dan sebagainya), penyesuaian, pandangan, pergerakan mata dan sebagainya. Gerakan ini belum dapat ditentukan perbedaannya. Sebahagian besar gerakan ini dilakukan untuk keperluan tertentu atau hanya sebagai gerakan pantulan sahaja.
b)               Dari 1-4 bulan (reaksi asas sekular)
Peringkat pertama pencapaian untuk penyesuaian dan berlakunya reaksi sekular. Padamulanya bayi memperoleh pengertian tentang bahagian badannya yang tertentu. Di tahap ini pengalaman memainkan peranan untuk pembentukan tingkah laku. Pada perkembangan ini anak banyak mendapatkan pengalaman pertama. Oleh karena itu tingkah laku anak pada tahap kedua ini sudah bergantung kepada andai-andai, sebab musabab tertentu untuk mewujudkan sesuatu situasi baru. Pergerakan sistem sensori mulai diselaraskan dengan sistem pandangan dan gerakan tangan. bila mendengar sesuatu bunyi, bayi akan menggerakkan kepala dan matanya ke arah punca sumber bunyi. Contoh; sekiranya bayi tersebut melakukan sesuatu tingkah laku yang ganjarannya akan mendapat menyeronokkan atau menyenangkan, dia akan mengulangi tingkah laku itu lagi.
c)                Dari 4-8 bulan (reaksi sekular kedua)
Di tahap ini bayi mempunyai persediaan untuk membuat pandangan da n pemerhatian yang lebih. Kebanyakan tingkahlaku bayi dihasilkan dari sesuatu proses pembelajaran. Bayi telah dapat melakukan tingkah laku baru seperti mengambil sesuatu barang lalu menggerakkannya. Di waktu ini, bayi boleh membuat tanggapan tentang objek Dalam tangannya. Contoh; bayi itu sengaja memasukkan barang mainan ke Dalam mulut dengan tujuan untuk mengetahui atau mengenali barang tersebut.
d)               Dari 8-12 bulan ( reaksi kordinasi)
Masa ini dikatakan sebagai masa pengukuhan yang disesuaikan antara satu sama lain dari masa sebelumnya. Pada tahap ini, perkembangan mental bayi sudah dapat dikatakan sebagai telah berada di tahap perkembangan daya kognitif dan kebolehan mental asas pada bayi. Bayi sudah mengetahui sebab akibat sesuatu keadaan berlaku. Contoh; apabila menggoncangkan sesuatu alat mainan, ia akan berbunyi.
e)                Dari 12-18 bulan (reaksi sekular ketiga)
Pada ketika ini, penemuan makna baru melalui pengalaman yang dilalui oleh bayi berlaku secara aktif. Oleh karena itu bayi memerlukan kecepatan untuk melahirkan keseluruhan rangkaian tingkah laku apabila berada di Dalam sesuatu situasi baru. di tahap ini, bayi memperlihatkan kemajuan yang pesat berhubung dengan pemahaman sesuatu konsep dan telah mempunyai konsep yang kukuh tentang sesuatu objek. bayi juga mengalami proses coba-coba, tetapi Dalam keadaan yang mudah. Contoh; anak-anak ini akan mencoba berbagai bunyi dan tingkah laku untuk mendapatkan perhatian.
f)                Dari 18-24 bulan (penggambaran pemikiran awal)
Berlakunya kombinasi mental pada anak karena mempunyai keupayaan untuk memahami aktiviti permainan dan fungsi simbolik. Pada masa ini anak dapat mengatasi masalah coba-coba dan dapat membedakan jenis-jenis tingkah laku peniruan yang diperhatikan.

C.  Fase Development of Self (pengembangan diri)
Menurut Erikson (1990) fase ini disebut Autonomy vs Shame (Kemandirian vs Rasa Malu) Usia 2-3 tahun. Gejala perkembangan psikologis pada usia ini, anak mencoba untuk mandiri yang secara fisik dimungkinkan oleh kemampuan mereka untuk berjalan, lari dan berkelana tanpa dibantu orang dewasa lagi. Kebebasan berkelalana ini, anak masuk Dalam periode menjelajah/eksplorasi.
Enurut Piaget (1990) fase perkembangan kognitif tahap ini disebut praoperasi (2-7 tahun). Perkembangan yang paling penting di tahap ini ialah penggunaan bahasa. Anak-anak yang berada di tahap ini menggunakan simbol di Dalam permainan, contoh; mengandaikan buku sebagai kereta lalu didorong-dorong di atas lantai. Namun, dari segi kualiti, pemikiran anak-anak masih di tahap yang rendah dibandingkan orang dewasa. Contoh; pemikiran anak-anak dalam egosentrik keseluruhan dunia dilihat hanya dari perspektif mereka saja. Namun proses perkembangan kognitif anak menjadi lebih sempurna mencakup tiga kebolehan asas yang berlaku yaitu; 1). Perkembangan kebolehan mental anak untuk melakukan tingkah laku seperti kebolehan menghitung, 2). Melalui latihan yang diulang-ulang, rangkaian tingkah laku yang dikukuhkan dan digeneralisasikan sehingga menjadi skema tingkah laku yang stabil, 3). Hal-hal umum yang betul-betul difahami oleh individu untuk mewujudkan sesuatu pengukuhan tingkah laku.
Dari dua pendapat di atas dapat dipahami bahwa fenomena mental yang paling penting pada fase ini dalam pengamatan, ingatan dan bayangan. Pengamatan merupakan suatu proses memberikan sepenuh perhatian terhadap sesuatu yang dilihat. Sedangkan ingatan dalam satu proses pembinaan, pengumpulan dan pengambilan kembali memori mengenai peristiwa lalu. Selanjutnya bayangan merupakan satu proses yang menyebabkan sensasi yang statik, selalunya pandangan dan pendengaran yang dikumpulkan di bahagian mental.
Hampir senada  dengan Kohlberg (1987). Ia menyebutkan perkembangan fase ini dalam pra-konvensional tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Anak-anak fase ini tidak mahu tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme
Beberapa hal dapat dicapai Dalam periode ini, seperti keberanian untuk menjelajah, insting untuk menentukan arah sendiri. Periode inilah kemampuan anak untuk percaya diri dikembangkan.
Problem yang dapat terjadi, menurut Erikson (1990), dalam rasa malu karena mereka merasa tidak mampu "be on tahuneir own". Ini akan terjadi bila orang tua terlalu banyak ikut campur misalnya membantu atau mengkoreksi kekeliruan mereka. Karena pada usia ini anak mulai belajar bahasa, maka ortu yang terus berusaha memperbaiki anak yang sedang belajar berbicara, akan mengakibatkan anak menjadi penakut/pemalu Dalam berkomunikasi.
Bagaimana sebaiknya ortu bersikap pada periode ini? Ortu harus sering bicara dengan anak, menanyakan pendapat anak, menciptakan suasana yang berwarna warni, mengarahkan dengan tidak langsung. "Ini dalam seekor...gajah. Warna gajah ini puuuu...tih. Apa yang akan terjadi ketika kucing bertemu tikus?". Kalau anak berusaha mengikat tali sepatunya, pujilah, dan jangan dibikin betul dengan tujuan menunjukkan kesalahannya. Pada saat ini yang dia pelajari bukanlah mengikat tali dengan benar tapi bahwa dia dihargai karena punya inisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru.  Kondisi krisis fase kedua ini dalam "citra diri" atau "Sense of Identity".
Anak-anak yang tidak mengembangkan citra diri mereka ini, cenderung menjadi terlalu patuh dan penurut. Orang tua perlu terus menerus menggugah rasa percaya anak bahwa mereka bisa dan boleh menentukan hidup mereka sendiri.

D.   Fase  Changing of Self (Perubahan diri)
Menurut Erikson (1990) fase ini disebut Inisiatif vs Guilt (Prakarsa vs Rasa Bersalah) Usia 3-6 tahun. Pada fase bermain inilah anak-anak belajar berfantasi, belajar mentertawakan diri, mulai belajar bahwa ada pribadi lain selain dirinya. Pada fase ini terletak fondasi anak untuk menjadi kreatif yang akan menjadi sangat penting pada fase berikutnya.
Menurut Kohlberg (1987) fase ini disebut fase pra-konvensional tahap dua orientasi minat pribadi. Konsep bagi mereka berorientasi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.” Perhatian kepada orang lain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang bersifat intrinsik. Semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja.
Pada fase ini anak menciptakan konsep identitas diri, terutama sehubungan dengan jenis kelamin mereka. Anak belajar menjadi lelaki atau perempuan bukan hanya dari alat kelamin tapi juga dari perlakuan sekeliling pada mereka. Fase inilah yang berperanan besar Dalam menentukan identitas karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara psikologis. "Anak lelaki menjadi lebih sayang pada ibu dan tidak begitu senang pada bapak sementara anak perempuan menjadi dekat bapak dan merasa disaingi ibu. Anak-anak kecil menjadi sayang guru TK-nya". Orang tua tidak perlu khawatir dengan hal ini karena hal ini memang normal, malah kalau anak dimarahi bisa-bisa menjadi "Guilty", merasa bersalah akan identitas kelaminnya.
Jika fase ini berhasil dilewati dengan sukses anak menjadi tidak terganggu dengan perasaan bersalah. Anak bisa menentukan apakah mereka mau menjadi seperti ayah/ibu (biasanya) tanpa perasaan bersalah dan anak tidak akan mengalami banyak kegelisahan karena merasa tidak dimengerti.
Apa yang bisa dilakukan ortu untuk merusak fase ini? banyak dan contohnya dalam dengan merampok masa bermain anak dengan menyuruh mereka belajar lebih dulu dari teman-teman seumur . Anak mulai didisiplinkan untuk menghafal angka, abjad dan menulis bagus supaya lebih pandai dari yang lain. Kalau boleh jujur, seringkali sebenarnya lebih banyak ambisi membuat anak pinter ini dalam untuk gengsi ortu yang disamarkan dengan mengharapkan masa depan anak yang baik. Yang terjadi sesungguhnya dalamengambil masa "fun" dari anak-anak sehingga emosi, kesenangan dan penjelajahan yang hanya tumbuh pada masa bermain ini tidak pernah tumbuh matang.
E.  Fase Self-Esteem and Competence (harga diri dan kompetensi)
Menurut Erikson (1990) fase ini disebut Mastery vs Inferiority (Penguasaan vs Rendah Diri) 6-12 tahun.
Kalau binatang muda, sesudah merasa tenteram dekat induknya, maka pada saatnya mereka mulai pergi ke alam untuk mengenalnya secara instingtif. Manusia mudapun demikian. Apabila sampai sekitar 6 tahun anak-anak masih melakukan eksplorasi tentang diri sendiri, maka selewat usia itu anak secara instingtif mulai melihat ke luar dan perkembangannya mulai berhubungan dengan dunia luar.
Pada fase ini anak mulai ke dunia di luar rumah seperti, sekolah, tetangga. Dunia luar menjadi tempat untuk tumbuh, terutama karena pada saat inilah mereka baru benar-benar mulai mampu berkomunikasi dengan anak lain sehingga mereka mulai bisa membentuk kelompok.
Menurut Piaget (1998) fase ini disebut tahap operasi konkrit usia (7-11 tahun). Pada tahap ini, tumbuh rasa ingin tahu yang tinggi sehingga anak-anak gemar bertanya sesuatu yang menarik minat mereka kepada orang yang lebih dewasa. Berkembangnya semangat inkuiri ini seterusnya menyebabkan mereka mulai menerima pendapat orang lain. Anak-anak akan mulai belajar bermain dan bergaul dengan kawan-kawan yang sebaya kerana pada tahap ini mereka akan mulai memasuki zaman persekolahan.
Dari dua pendapat di atas, walau sedikit selisih tahunnya dapat kita pahami bahwa; fase ini anak-anak sudah mulai memahami unsur-unsur pemikiran logic, mulai memahami konsep-konsep nombor, berat benda, susunan sesuatu dll.
 Namun anak-anak pada umur sebegini masih belum memahami atau menaakul tentang perkara-perkara yang abstrak seperti konsep kenegaraan, ketuhanan, makna hidup dan sebagainya. Mereka hanya memahami konsep-konsep yang konkrit atau objektif seperti mengenali haiwan, tumbuhan dan sebagainya.
Pada masa-masa ini tidak ada hal relatif, yang ada hanyalah kemutlakan. "Semua penjahat berbaju hitam dan berwajah kotor. Pahlawan berwajah bersih, dan bajunya terang. Kelompok saya dalam kelompok lelaki dan kami benci/tidak menerima perempuan (dan sebaliknya). Orang dewasa selalu benar dan guru tahu segalanya".
Pada usia ini anak-anak juga sangat tertarik untuk belajar, dan sangat sulit untuk berdiam diri. Mereka belajar segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan fisik seperti olahraga, berlari, berenang, mengumpulkan segala sesuatu dan mengembara sampai ke batas yang disetujui. Anak-anak yang melalui fase ini dengan baik akhirnya akan memperoleh ganjaran dengan mendapatkan sense of mastery, suatu keyakinan bahwa mereka mampu menguasai masalah yang mereka hadapi. Syaratnya dalam bahwa orang-orang dewasa yang mereka hormati seperti Ortu harus mendukung kegiatan yang banyak ini karena dari Dalam setiap anak memang ada keinginan untuk mengerti dan menguasai lingkungan mereka.
Kesulitan bagi anak terjadi ketika ortu tidak mau repot dan cenderung melarang anak kemana-mana sehingga tidak terlalu merepotkannya. Ortu yang terlalu lelah karena bekerja dan ingin anaknya diam, sopan dan tenang, juga merugikan pertumbuhan anaknya. Bila ini terjadi cukup lama sehingga anak memperoleh kebiasaan untuk nonton TV daripada mempelajari hal-hal di lingkungan mereka, maka anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi mereka. Pada anak ini, sense of mastery diganti oleh rasa rendah diri (inferiority) yang sangat berdampak pada masa-masa yang akan datang.
Anak-anak yang penuh rendah diri ini lebih sulit merasakan adanya kemampuan mereka untuk mengembangkan Kompetensi Dalam bidang yang penting. Ortu yang sangat takut akan lingkungan yang tidak aman sering mengurung anak di rumah, dan memberikan TV, atau Play Station-Sega. Hal ini sangat sayang karena pada usia inilah anak paling siap untuk belajar secara aktif.
Untuk ortu semacam ini, sebaiknya membahas hal ini dengan guru anaknya karena sebenarnya pengaruh guru sangat besar pada masa-masa ini. Karena itu pula pilihan sekolah dasar sangat penting, bukan hanya karena bangunan dan fasilitasnya tapi juga harus melihat guru yang akan sangat mempengaruhi kompetensi yang tercipta.
F.   Fase Salf in Self- Control (diri Dalam pengendalian diri)
Fase ini umumnya menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mulai mahu menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya.
Fase ini mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya Dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu tindakan memainkan peran yang lebih signifikan Dalam penalaran di tahap ini; "mereka bermaksud baik".
Fase ini sangat penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna Dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral Dalam tahap lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual. Kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti Dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu - sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan.

G. Adolescent and Individuasi (remaja dan individuasi)
Menurut Erikson (1990) fase ini disebut Ego-Identity vs Role Confusion (Identitas Diri vs Kekacauan Peran) untuk masa bergolak, yakni masa remaja 12 - 18/20 tahun. Fase ini dalam fase puncak kegoncangan diri Dalam menciptakan identitas diri. Kegagalan fase ini akan menciptakan kerancuan identitas/peran. Identitas-diri dalamengenal siapa diri sesungguhnya dan bagaimana diri ini melebur dengan masyarakat di sekeliling. Menciptakan yang benar mengumpulkan semua pengetahuan dan menggabungkan semuanya menjadi suatu citra diri yang berguna bagi masyarakat. Faktor terpenting supaya tercipta identitas diri yang sehat dan berguna bagi masyarakat yaitu hadirnya role model di Dalam masyarakat. Seseorang yang bisa dijadikan contoh seperti orang tua atau guru yang hebat menjadi sangat penting. Faktor penting lainnya dalam adanya kejelasan bagaimana melangkah meninggalkan masa anak-anak menuju kedewasaan.
Menurut Piaget (1985) perkembangan kecerdasan kognitif pada fase ini telah sampai ke tahap maksimal. Pemikiran dan penguraian pendapat individu pada tahap ini dikatakan lebih baik dan nyata. mereka dikatakan mampu membuat keputusan dan telah dapat membuat hipotesis melalui pemerhatian. Individu telah mulai mencari jalan untuk menyelesaikan masalah berdasarkan rasional dan lebih bersifat sistematik. Remaja pada tahap ini didapati patuh dan berhati-hati dengan pendapat dan pegangan.
Berdasarkan dua pendapat di atas dapat dipahami bahwa remaja fase ini mulai memahami tentang diri mereka dan peranannya Dalam masyarakat sehingga mereka telah mampu membuat perancangan berdasarkan pegangan dan pendapat yang disesuaikan dengan nilai dan norma yang terdapat Dalam masyarakat. Pada tahap ini juga, pemikiran baru dihasilkan iaitu berbentuk abstrak, formal dan logik.
Walaupun pemikiran pada operasi tahap formal bermula semasa zaman remaja, pemikiran sebegini kadangkala jarang digunakan (Burbulus & Linn 1988)Di suku Indian tertentu, anak dianggap dewasa setelah dia berhasil pergi ke padang rumput dan membawa pulang bulu elang, ekor kerbau atau tengkorak hyena. Di suku-suku Afrika, sunat dalam tanda bagi remaja lelaki yang sudah dianggap dewasa; dan kebetulan katanya memang berguna secara fisik karena lebih "bersih". Remaja wanita diAfrikapun disunat, istilah modernnya dalam Female Genital Mutilation, walaupun manfaatnya bagi wanita kurang jelas. Pokoknya, yang penting ada suatu upacara yang dengan jelas menunjukkan pada umum bahwa anak sudah bukan anak lagi tetapi sudah menjadi dewasa dan dia dituntut untuk berlaku dewasa.
Identitas diri bisa menjadi ekstrim bila para orang dewasa yang mengelilingi kita menekankan bahwa tidak ada kompromi untuk suatu hal, dan kita berakhir dengan menjadi fanatik. Yang paling sering difanatikkan dalam faktor agama atau etahunnik tertentu. Remaja fanatik tidak diijinkan melihat pilihan lain dani dentitas dirinya dibanjiri oleh dominasi faktor ini. Harus kita ingat bahwa remaja baru saja meninggalkan stage ke 4 di mana mereka tidak melihat adanya relatifitas, yang ada hanya kemutlakan.
Orang dewasa yang berhasil mempengaruhi anak-anak pada usia rawan ini akan berhasil mendapatkan pengikut yang sangat setia dan membabi buta.
Identitas diri yang sehat mencapai suatu keadaan yang dinamai fidelity oleh erikson, yaitu suatu kelegaan karena kita mengenal siapa diri kita, tempat kita Dalam masyarakat dan kontribusi macam apa yang kita bisa sumbangkan untuk masyarakat. Sebaliknya, mereka yang gagal memiliki suatu identitas diri akan gelisah karena tidak jelasnya identitas mereka. Orang-orang ini bisa menjadi "drifter", sipengembara, atau si penolak (mereka bisa menolak untuk punya identitas, menolak definisi masyarakat tentang anggota masyarakat dll) dan mereka hidup sendiri bahkan ketika ada di tengah masyarakat.
Remaja yang orangtuanya bercerai, sering bekerja larut malam, cenderung bingung menghadapi perubahan kultur dan cara hidup global yang baik bagi perkembangan psikisnya. Mereka mengalami masa pertumbuhan yang rentan dan sering gelisah karena tidak ada role model. Akibatnya beberapa di antara mereka meninggalkan masa kanak-kanaknya dengan mencari identitas diri bergabung Dalam kelompk gank dan dengan kagum melihat pemimpin gank sebagai role model.
Mereka cenderung membuktikan status setelah berhasil merokok atau meminum minuman keras, atau bahkan berhubungan badan dengan anggota lama yang berlainan sex. Kegiatan mereka menjadi merusak dan mengkacaukan masyarakat, tapi bagi mereka itu tidak masalah daripada hidup tanpa suatu identitas. Inilah bahaya besar dari kaum remaja yang gagal melewati masa ini dengan sukses.


BAB III
PRENUTUP
Setiap manusia dilahirhkan telah memiliki potensi cognitive Dalam diri untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu. -Contohnya, sewaktu dilahirkan, bayi telah dilengkapkan dengan beberapa gerakan pantulan yang dikenali sebagai skema seperti gerakan; menghisap, memandang, mencapai, merasa, memegang, serta menggerakkan tangan dan kaki.-Bagi gerakan memegang, kandungan skemanya dalamemegang benda yang tidak menyakitkan.-Oleh karena itu, bayi juga akan cenderung memegang benda-benda yang tidak menyakitkan seperti; jari ibu.-Skema yang ada pada bayi akan menentukan bagaimana bayi bertindak balas dengan persekitarannya.
Perkembangan kognitif selanjutnya disebut asimilasi yang merupakan satu proses penyesuaian antara objek yang baru diperolehi dengan skema yang telah ada.-Proses asimilasi yang berlaku membolehkan manusia mengikuti sesuatu modifikasi skema hasil daripada pengalaman yang baru diperoleh, contoh; seorang anak yang baru pertama kali melihat sebuah apel, maka anak tersebut akan menggunakan skema memegang dan sekaligus merasa. Oleh karena itu anak tersebut mendapatkan satu pengetahuan baru baginya.
Selanjutnya akomodasi. Merupakan suatu proses struktur kognitif mengalami perubahan.-Akomodasi berfungsi apabila skema tidak dapat mengasimilasi (menyesuaikan) persekitaran baru yang belum ada Dalam perolehan kognitif anak. Proses akomodasi ini disebut sebagai suatu proses pembelajaran.-Contoh; anak yang berumur 2 tahun belum pernah melihat magnet. Ketika ditunjukkan magnet, maka  akan melekat objek baru tersebut ke Dalam skemanya dan mewujudkan penyesuaian konsep terhadap magnet itu.
Selanjutnya adaptasi. Merupakan satu keadaan keseimbangan diantara akomodasi dan asimilasi untuk disesuaikan dengan persekitaran.-Keadaan keseimbangan yang telah ada dengan mencipta hubungan apa yang dipelajari dengan kehendak persekitaran.








DAFTAR PUSTAKA

Erickson, E, 1966, Ciri-ciri Fase Pertumbuhan dan Perkembangan. Dalam Baron & Byrne, 2004,  Psikologi Sosial, (5tahun ed.). (hlm. 133-139). Jakarta: Erlangga

Baron & Byrne, 2004,  Psikologi Sosial, (5tahun ed.). Jakarta: Erlangga

Jung, C.G, 2009, Psychological Types. Collected Works, terjemahan Shamdasani, (2nd ed.). Jakarta: Erlangga

L, Zulkifli, 1986, Psikologi Perkembangan, Bandung: Remaja Karya

Suryabrata, Sumadi, 1984, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers

Hardy, Malcom dan Heyes, Steve, 1988, Pengantar Psikologi, terjemahan, Sunardji, (2nd ed.). Jakarta: Erlangga

Mussen dan Kagan, 1998 Psikologi Perkembangan. Dalam Gerungan, 1966, Psikologi Sosial, (2nd ed.). (hlm. 139-145) Jakarta: Rajawali Pers

Gerungan, 1966, Psikologi Sosial, (2nd ed.). (hlm. 139-145) Jakarta: Rajawali Pers

B. Hurlock, Elizabeth, 1981, Developmental Psychology, terjemahan, Istiwidayanti, (2nd ed.). Jakarta: Erlangga

Sabari, M. Alisuf, 1998, Pengantar Psikologi Umum Perkembangan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya  

Preud, Sigmund, 1998 Psikologi Perkembangan. Dalam  Sabari, M. Alisuf, 1998, Pengantar Psikologi Umum Perkembangan, (hlm. 152-154). Jakarta: Pedoman Ilmu

Piaget, 1998, Fase Pertumbuhan dan Perkembangan. Dalam  Sabari, M. Alisuf, 1998, Pengantar Psikologi Umum Perkembangan, (hlm. 149-154). Jakarta: Pedoman Ilmu
Erickson, E, 1998, Fase Pertumbuhan dan Perkembangan. Dalam  Sabari, M. Alisuf, 1998, Pengantar Psikologi Umum Perkembangan, (hlm. 146-149). Jakarta: Pedoman Ilmu

APA: amirican psychologist associasion
jabarian
CARA MENULIS DAFTAR PUSTAKA

Buku

Dornyei, Z. 2001. Teaching and Researching Motivation. Essex, England: Pearson Education Limited

Cronbach, L. J. 1990. Essentials of Psychological Testing (5tahun ed.). New York: Harper Collins Publishers

Burden, P.R., & Byrd, D.M. 1999. Metahunods for Effective Teaching (2nd ed.). Boston: Allyn & Bacon

Borg, W. R., & Gall, M. D. 1983. Educational Research: An Introduction (4tahun ed.). New York: Longman Inc.

Jalal, F., & Supriadi, D. 2001. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

Gall, M.D., Gall, J.P., & Borg, W.R. 2003. Educational Research: An Introduction (7tahun ed.). New York: Pearson Education Inc.


Johnson, D.W., Johnson, R.T., & Holubec, E.J. 1990. Circles of Learning: Cooperative in tahune Classroom (3rd ed.). Minnesota: Interaction Book Company

Elliott, S. N., Kratochwill, T.R., Littlefield, J., & Travers, J.F. 1996. Educational Psychology: Effective Teaching Effective Learning (2nd ed.). New York: McGraw-Hill Co.

Elliott, S. N., Kratochwill, T.R., Cook, J.L., & Travers, J.F. 2000. Educational Psychology: Effective Teaching Effective Learning (3rd ed.). Singapore: McGraw-Hill Book Co.

Berry, J. W., Poortinga, Y. H., Segall, M. H., & Dasen, P. R. 1993. Cross-culture Psychology: Research and Applications. Cambridge: Cambridge University Press


Journal

Bandura, A. 1986. Tahune Explanatory and Predictive Scope of Self-Efficacy Tahuneory. Journal of Social and Clinical Psychology, 4: 359-373

Subono, Nur Imam. 2000. Perempuan, Perang, dan Perkosaan. Jurnal Perempuan, 15: 95-110

Anonimous, 2000. Apa Khabar Perempuan Aceh. Jurnal Perempuan. 1(15): 127-130

Bergin, D.A.1999. Influences on Classroom Interest. Educational Psychologist, 34 (2): 87-98 

Boekaerts, M. 1998. Do Culturally Rooted Self-Construal Affect Student’s Conceptualization of Control Over-learning? Educational Psychologist, 33 (2/3): 87-108

Bradley, R. H., & Corwyn, R. F. 2000. Moderating Effect of Perceived Amount of Family Conflict on tahune Relation between Home Environmental Processes and Well-being of Adolescents. Journal of Psychology Family, 14 (3): 349-364

Baker, L., Scher, D., & Mackler, K. 1997. Home and Family Influences on Motivations for Reading. Educational Psychologist, 32(2): 69-82

Butler, L. D., Koopman C., Classen, C., & Spiegel, D. 1999. Traumatic Stress, Live Events, and Emotional Support in Women witahun Metastatic Cancer: Cancer –Related Traumatic Stress Symptoms Associated witahun Past and Current Stressor. Healtahun Psychology, 18 (6): 555-560

Clarke-Stewart, K.A., Vandell, D.L., McCartney, K., Owen, M.T., & Bootahun, C. 2000. Effect of Parental Separation and Divorce on Very Young Children. Journal of Family Psychology, 14 (2): 304-326

Benotsch, E. G., Brailey, K., Vasterling, J.J., Uddo, M., Constans, J.I., & Sutker, P.B. 2000. War Zone Stress, Personal and Environmental Resources and PTSD Symptoms in Gulf War Veterans: A Longitudinal Perspective. Journal of Abnormal Psychology, 109 (2): 205-213

Boyles, S.H., Ness, R.B., Grisso, J.A., Markovic, N., Bromberger, J., & CiFelli, D. 2000. Life Event Stress and Tahune Association witahun Spontaneous Abortion in Gravid Women at an Urban Emergency Department. Healtahun Psychology, 19 (6): 510-514

Sternberg, K. J., Lamb, M. E., Greenbaum, C., Cicchetti, D., Dawud, S., Cortes, M. M., Krispin, O., & Lorey, F. 1993. Effects of Domestic Violence on Children’s Behavior Problem and Depression. Developmental Psychology, 29 (1): 44-52



Rujukan Dalam buku penulis lain

Joni, T. R. 2001. Restrukturisasi Sistem Karier dan Insentif Guru. Dalam Jalal, F., & Supriadi, D. 2001. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah (hlm. 349-357). Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

Perkin, D. N, & Unger, C. 1999. Teaching and Learning for Understanding. Dalam Reigelutahun, C.M. (Ed.), Instructional-Design Tahuneories and Model Volume II: A New Paradigm of Instructional Tahuneory (hlm. 91-114). Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers

Medley, D.M.1995. Tahune Effectiveness of Teachers. Dalam Peterson, P.L. & Walberg, H.J. 1997. Research on Teaching: Concepts, Findings, and Implications (hlm. 11-56). Berkeley, California: McCutchan Publishing Corporation

Makalah

Joni, T. R. 2000. Rasional Pembelajaran Terpadu.  Makalah disampaikan Dalam Seminar Regional Implementasi Pembelajaran Terpadu Dalam Menyongsong Era Indonesia Baru, PPS Universitas Negeri Malang, 20 Mei

Parawansa, H. P. 2001. Pendidikan Nasional di Persimpangan Jalan: Reorientasi terhadap Strategi Pendidikan Nasional. Makalah disampaikan Dalam  Simposium dan Musyawarah Nasional I Alumni Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, FKM PPS UN Malang, 13 Oktober

Suryadi, A. 2000. Pembiayaan Pendidikan: Suatu Investasi Produktif. Makalah disampaikan pada Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia IV. Universitas Negeri Jakarta, 19-22 September


Suyanto. 2000. Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi Berwawasan Entrepreneurship. Makalah disampaikan Dalam Konvensi Pendidikan Nasional Indonesia IV. Universitas Negeri Jakarta, 19-22 September


Buku (Editor)

Moll, L. C. (Ed.). 1993. Vyangotsky and Education: Instructional Implications and Applications of Sociohistorical Psychology. Cambridge, USA: Cambridge University Press

Reigelutahun, C.M. (Ed.). 1999. Instructional-Design Tahuneories and Model, Volume II: A New Paradigm of Instructional Tahuneory. Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers

Peterson, P.L., & Walberg, H.J. (Ed.).1997. Research on Teaching: Concepts, Findings, and Implications. Berkeley, California: McCutchan Publishing Corporation


Peterson, P.L., & Walberg, H.J. (Ed.).1997. Research on Teaching: Concepts, Findings, and Implications. Berkeley, California: McCutchan Publishing Corporation


Sumber kantor/badan

Bagian Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Ar-Raniry. 2003. Data Kemahasiswaan: Jumlah Mahasiswa yang Mendaftar dan Diterima menurut Fakultas/Jurusan, Jenjang/Program dan Asal Sekolah Calon Mahasiswa Semester Ganjil Tahun Akademik 2003/2004. Banda Aceh: Kabag Akademik & Kemahasiswaan IAIN Ar-Raniry

Depag. 2003. Laporan Statistik Education Management Information System (EMIS) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Tahun Pelajaran 2002-2003 Nanggroe Aceh Darussalam. Jakarta: Dirjen. Kelembagaan Agama Islam

Kanwil Depag Aceh, 2001. Rekapitulasi Data Alamat dan Jumlah Madrasah, Guru Negeri dan Honorer, Pegawai Administrasi, dan Pegawai Honorer pada MAN/MAS Depag. D.I. Aceh Tahun 2000/2001. Banda Aceh: Kanwil Depag Aceh

UNDP. 1996. Human Development Report 1996. New York: Oxford University Press

UNDP. 1999. Human Development Report 1999. New York: Oxford University Press


Rujukan dengan penulis dan tahun sama

Dimyati, M. 2000a. Penelitian Kualitatif: Paradigma, Epistimologi, Pendekatan, Metode, dan Terapan (cet. ke 2). PPS Universitas Negeri Malang

Dimyati, M. 2000b. Demokratisasi Belajar pada Lembaga Pendidikan  Dalam Masyarakat Indonesia Transisional: Suatu Analisis Epistimologi Keindonesiaan. Makalah disajikan Dalam Seminar dan Diskusi Panel Nasional Teknologi Pembelajaran V, PPS UNM dan IPTPI, Malang, 7 Oktober




Terjemahan

Fromm, E. 1941. Akar Kekerasan: Analisis Sosio-psikologis atas Watak Manusia. Terjemahan oleh Imam Muttaqin. 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rujukan Media

Litbang Kompas. 1 Mei, 2001. Keluhan Orangtua, Murid,  dan Guru, hlm. 40.

Litbang Kompas. 31 Agustus, 2002. Sistem Pendidikan belum Terapkan Pembelajaran Tuntas, hlm. 9.

Litbang Tempo. 2001. Konflik Menggangu Jiwa Mereka. Tempo. 14: 96-97

Metro TV, 13 Maret, 2003. Dialog Interaktif tentang Pendidikan di Aceh, pukul 17.00

Serambi Indonesia, 19 Agustus, 2001. Pengumuman Hasil UMPTN Tahun 2001, hlm. 9-12

Serambi Indonesia, 13 Agustus, 2002. Pengumuman Hasil UMPTN Tahun 2002, hlm. 9-12

Disertasi/tesis
Mahmud, Alimuddin. 2005. Penerapan Konseling Kelompok Berwawasan Jender untuk Meningkatkan Rasa Keberhasilan Dalam Karier (Career Self-efficacy) Siswa: Studi Pra-eksperimental Di SMA Neg.9 Makassar. Disertasi. Tidak dipublikasikan. Malang: PPs Universitas Negeri Malang

Fakhri. 2005. Hubungan Sejumlah Faktor Non-Kognitif dengan Performansi Akademik Siswa MAN Di NAD. Disertasi. Tidak dipublikasikan. Malang: PPs Universitas Negeri Malang






Psikologi Pendidikan Teori Behavior dan Terapannya di kelas Ridwan, MA

TEORI-TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK SERTA PENERAPANNYA

A.    Teori-teori Belajar Psikologi Behavioristik
Teori belajar psikologi behavioristik dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut “ contemporary behaviorist“ atau juga disebut “S-R psikologists”. Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan.
Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat, bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah lakudengan jalan mempelajari latar belakangreinforcement terhadap tingkah laku tersebut.
Obyek psikologi menurut aliran ini ialah: tingkah laku, dan bukannya kesadaran. Karena itu behaviorisme adalah psikologi tingkah laku; dan studinya terbatas mengenai pengamatan serta penulisan tingkah laku.
Aliran behaviorisme kuat berorientasi pada ilmu alam; dan sesuai dengan psikologi asosiasi, ia selalu mencari elemen-elemen tingkah laku yang paling sederhana, yaitu refleks.
Aliran behaviorisme menyatakan, bahwa semua tingkah laku manusia itu bisa ditelusuri asalnya dari bentuk refleks-refleks. Refleks adalah reaksi-reaksi yang tidak disadari terhadap perangsang-perangsang tertentu. Setiap bentuk tingkah laku manusia dapat dijelaskan diluar peristiwa kesadaran. Maka diri manusia disebut sebagai kompleks refleks-refleks, atau sebagai mesin reaksi belaka. Faktor pembawaan tidak mempunyai peranan sama sekali; “pendidikan” yang maha kuasa dalam membentuk diri manusia. Maka manusia itu hanyalah merupakan makhluk kebiasan belaka, karena sang pendidik dengan sesuka hati bisa mampengaruhi refleks-refleks anak-anak didiknya dalam membentuk prilaku dan kebiasaan-kebiasaannya.
1.      Teori-teori yang Mengawali Perkembangan Psikologi Behavioristik
Psikologi aliran behavioristik mulai berkembang sejak lahirnya teori-teori tentang belajar yang dipeloopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Guthrie. Di Amerika Serikatpendidikan dan pengajaran didominasi oleh Thorndike (1874-1949). Teori beljar Thorndike disebut “connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering disebut “trial and error learning” individu yang belajar melakukan kegiatan melalui proses trial and error dalam rangka memilih respon yang tepatbagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teori-teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku berbagai binatang antara lain kucing, tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.
Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pola aktivitas untuk merespon situasi itu. Dalam halitu objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Ciri-ciri belajar dengan trial and error, yaitu:
a.  ada motif pendorong aktivitas
b.  ada berbagai respon terhadap reksi
c.  ada eliminasi respon-respon yang gagal
d. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan
Dari penelitian itu, Thorndike menemukan hukum-hukum:
a.       Laf of readines: jika reksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak atau bereaksi itu, maka reaksi menjadi memuaskan.
b.      Law of  exercise: makin banyak dipraktekkan atau diguinakannya hubungan stimulus respon, makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai “reward
c.       Law of effect: bilamana terjadi hubungan antara stimulus dan respon, dan dibarengi dengan “state of affair” yang mengganggu, maka kekuatan hubungan menjadi berkurang.
Di Rusia Ivan Pavlov (1849-1936) juga menghasilkan teori belajar yang disebut “classical conditioning” atau “stimulus subtituation”.
Teori Pavlov berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing. Dalam percobaan ini, anjing diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing.
Jhon B. Watson (1878-1958) adalah orang pertama di Amerika serikat yang mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian Pavlov. Watson berpendapat “bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respon-respon bersyarat melalui stimulus pengganti”.
Salah satu percobaannya adalah terhadap anak umur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses ekstrinsik, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa dibarengi stimulus tak bersyarat.
E.R. Guhtrie (1886-1959) memperluas penemuan Watson tentang belajar. Ia mengemukakan prinsip belajar yang disebut “the law of association” yang berbunyi: suatu kombinasi stimulus yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung akan menimbulkan gerakan itu, apabila kombinasi stimulus itu muncul kembali.
2.                       Skinner Operant Conditioning
Skinner menganggap “reward” atau “reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. Skinner berpendapat, bahwa tujuan psikolgi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku.
Skinner membagi dua jenis respon dalam proses belajar, yakni:
a.  Respondent: respon yang terjadi karena stimulus khusus
b.  Operant: respon yang etrjadi karena stiuasi random
Operant conditioning, suatu situasi belajar dimana suatu respon dibuat lebih kuat akibat reinforcement langsung.
Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin respon-respon terhadap stimulus. Apabila murid tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus, guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya terhadap arah tujuan behavior.
Jenis-jenis stimulus:
a)  Positive reinforcement: penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas suatu respon.
b) Negative reinforcement: pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respon.
c)  Hukuman: pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya “contradiction or reprimand”. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan stimulus yang menyenangkan.
d) Primary reinforcement: stimulus pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiologis.
e)  Secondary or learned reinforcement.
f)  Modifikasi tingkah lakuguru: perlakuan guru terhadap murid-murid berdasarkan minat kesenangan mereka.
Penjadwalan reinforcement:
Jadwal reinforcement menguraikan tentang kapan dan bagaimana suatu respon diperbuat. Ada empat cara penjadwalan reinforcement:
1)      Fixed ratio schedule; yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran, yang mana pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respon setelah terjadi jumlah tertentu dari respon.
2)      Variable ratio schedule; yang didasarkan atas penyajian bahan pelajaran dengan penguat setelah sejumlah rata-rata respon.
3)      Fixed internal schedule; yang didasarkan atas satuan waktu tetep diantara “reifforcements”.
4)      Variable interval schedule; pemberian reinforcement menurut respon betul yang pertama setelah terjadi kesalahan-kesalahan respon.

B.     Kecocokan Penerapan Teori Behavioristik dalam PAI
1.                       Koneksionisme
Menurut saya teori koneksionisme itu cocok bila diterapkan dalam PAI. Sebab dalam koneksionisme, belajar merupakan pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Artinya, dalam belajar PAI hal utama yang paling menentukan adalah adanya stimulus yang bisa membangkitkan dan membentuk minat siswa untuk mau belajar PAI, dimana asa puas yang ditimbulakan akan mendorong pembelajaran.
Selain stimulus-respon, teori ini juga sering disebut dengan “trial and error” yang berarti berani mencoba tanpa takut salah. Jadi, dalam belajar PAI siswa diharapkan untuk berani mencoba mempelajari PAI. Sehingga siswa menemukan keberhasilan untuk mencapai tujuan. Umpanya, dalam mata pelajaran PAI siswa diberi beberapa pertanyaan dan siswa juga dituntut untuk dapat menjawabnya tapi dengan teori koneksionisme trial and error siswa diberi kesempatan untuk berani menjawab pertanyaan yang diajukan tanpa rasa takut salah dalam menjawab dan akan tetap terus berusaha sehingga ia dapat menjawab pertanyan tersebut dengan sempurna.
2.    Operant Conditioning
Dalam penerapanya teori operant conditioniang juga cocok bagi PAI, sebab dalam teori ini “reward” atau “reinforcement” dianggap sebagai faktor terpenting dalam proses belajar, artinya bahwa perilaku manusia selalu dikendalikan oleh faktor luar (faktor lingkungan, rangsangan, stimulus). Dilanjutkan bahwa dengan memberikan ganjaran positif, suatu perilaku akan ditumbuhkan dan dikembangkan. Sebaliknya, jika diberikan ganjaran negatis suatu perilaku akan dihambat.
Dalam situasi belajar PAI, hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tidak diinginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan reinforcement langsung. Hukuman menunjukkan apa yang tidakboleh dilakukan oleh murid. Sedangkan reward menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid. Sebagai contoh; murid yang tidak menghafalkan pelajaran Qur’an hadits selalu disuruh berdiri didepan kelasoleh gurunya. Sebaliknya jika ia sudah hafal maka ia disuruh duduk kembali dan dipuji oleh gurunya. Lama-kelamaan anak itu belajar menghafal setiap pelajaran Qur’an hadits.

3.                       Classical Conditioning
Teori classical conditioning juga cocok bila diterapkan dalam pembelajaran PAI, sebab belajar erat hubungannya dengan prinsip penguatan kembali. Atau dengan perkataan lain, ulangan –ulangn dalam hal belajar adalah penting. Sebagai contoh; siswa-siswa sedang membaca do’a diawal pelajaran (UR) apabila melihat seorang guru hendak masuk kelas (US) mulanya berupa latihan pembiasaan mendengarkan bel masuk kelas (CS) bersama-sam dengan datangnya guru ke kelas (UCS). Setelah kegiatan berulang-ulang ini selesai, suatu hari suara bel masuk kelas tadi berbunyi tanpa disertai dengan kedatangan guru ke kelas ternyata siswa-siswa tersebut tetap membaca do’a juga (CR) meskipun hanya mendengarkan suara bel. Jadi (CS) akan menghasilkan (CR) apabila CS dan UCS telah berkali-kali dihadirkan bersama.
4.    Continguous Conditioning
Menurut saya teori ini kurang cocok bila diterapkan dalam pembelajaran PAI, sebab mengingat kecenderungannya yang serba mekanis dan otomatis. Padahal, dalam kebanyakan proses belajar yang dialami manusia utamanya siswa yang sedang belajar PAI peranan insight, tilikan akal dan informasi proccessing, tahapan pengolahan informasi baik disadari atau tidak selalu terjadi dalam diri setiap siswa yang sedang melakukan pembelajaran.

5.    Social  Learning Theori
Begitu juga dengan teori-teori sebelumnya, teori ini juga cocok bila diterapkan dalam pembelajaran PAI, sebab teori ini memandang bahwa tingkah laku manusia bukan refleks otomatis atas stimulus melainkan juga akibat reaksi antara stimulus dan lingkungan.






Psikologi Pendidikan Aplikasi Teori Vigosky dalam kelas Ridwan, MA

Aplikasi Teori Vygotsky Dalam Kelas
Aplikasi Teori Vygotsky Dalam Pendidikan teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggarisbawahi peran penting pengetahuan awal dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Dan tiga, mereka membantu menj ... Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama: (1) bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui; (2) bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual; (3) peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa (Nur, 2000b: 10).
Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif (Sugihartono,dkk, 2007:115) adalah sebagai berikut: Menyediakan pe ... kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efekif dalam masng-masing zone of proximal development mereka. Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran dalam menekankan scaffolding. Jadi teori belajar vigotsky adalah salah satu teori belajar social sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif social yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan a ... Karya Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama (1) bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui (2) bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual (3) peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa (Nur, 2000b 10).Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif

(Sugihartono,dkk, 2007115) adalah sebagai berikutMenyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.Menyediakan berbagai alternatif penglaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistic dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep siswa melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi social, yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerja sama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajarn lebih efektif.Melibatkan siswa secara emosional dan social sehingga siswa menjadi tertarik dan mau belajar.Sumbangan psikologi kognitif berakar dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. 

Selasa, 08 Desember 2015

MSI sistem perbankan syariah OKE Ridwan, MA

Laporan Bacaan Mingguan
Nama/NIM : Ridwan, S.Pd.I / 23111303-2  Mahasiswa PPs : Pendidikan Islam II
Mata Kuliah : Metodologi Studi Islam
 Desen Pengasuh : Prof. Drs. Yusny Saby, MA.Phd
Angelo M. Venardos, Islamic Banking & Finance in South-East Asia: Its Development & Future, (Penerbitan Saintifik Dunia, Singapura) terjemahan  (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, 2007),
Sistem Perbankan Syari'ah
Bank yang beroperasi dengan prinsip Syariah atau Islam namun Bank Syariah juga merupakan Bank yang dalam operasionalnya berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist bisa juga Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah menurut hukum islam Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.
Fungsi dan prinsip operasional, yaitu; 1. Konsep bagi hasil, 2. Produk Syariah, 3. Uang sebagai alat tukar bukan sebagai alat komoditi, 4. Transaksi yang transparan, keikhlasan dan kejujuran, 5. Etik bisnis syariah yang dilarang melakukan kegiatan penipuan kecurangan, suap haram dan riba
6. Perilaku sumber daya insani wajib mengikuti teladan Rasulullah Saw.
Sistim perhitungan bunga, yaitu; 1. Dihitung dari pinjaman modal (pokok), 2. Bunga berubah sesuai dengan kondisi pasar, 3. Nominal tetap sesuai dengan bunga, 4. Diragukan oleh semua agama
Sistim bagi hasilnya, yaitu; 1. Dihitung dari margin (keungtungan), 2. Nisbah tetap sesuai dengan akad, 3. Nominal berubah sesuai dengan  kondisi usaha, 4 Tidak ada keraguan.
Prinsip dasar operasionalnya, yaitu; 1. Penghimpunan dana masyarakat, 2. Titipan (wadiah dhamanah), 3. Menganut  sitem bagi hasil (mudharabah). Penyaluran dana kepada masyarakat dengan cara ; 1. Bagi hasil (mudharabah, musyarakah),  2. Jual beli (myrabahah),  3. Sew,  4. Pinjaman Kebajikan, dan  5. Jaminan / Gadai.  Jasa lalu lintas keuangan, berupa ; 1. Perwakilan,  2. Penjamin, 3. Pemindahan hutang, dan  4. Imbalan.
Konsep-konsep yang mendasari transaksi perbankan syariah, yaitu; 1. Murabahah adalah pembiayaan dengan prinsip jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati, dengan pihak bank selaku penjual, dan nasabah selaku pembeli. Pembayaran dilakukan dengan cara diangsur. Skema Murabahah, yaitu; 1. Nasabah memesan barang kepada bank,  2. Bank membeli dan membayar kepada supplier,  3. Bank menjual barang kepada nasabah, 4. Suppiler mengirim barang kepada nasabah, dan 5.  Nasabah membayar kepada bank.
2. Musyarakah adalah pembiayaan yang dilakukan melalui kerjasama usaha antara Bank dengan nasabah dimana modal usaha berasal dari kedua belah pihak. Dalam pembiayaan musyarakah ini, keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan porsi sharing modal masing-masing.
3.  Mudharabah adalah pembiayaan dengan prinsipbagi hasil antara bank dan nasabah pembiayaan dimana pemilik modal (Bank) menyediakan sebagian besar modal pada suatu usaha yang disepakati.
Pengaturan dan pengawasan perbankan syariah diperlukan, untuk; 1. Menjaga setabilita sistemkeuangan (makro ekonomi)dan keberlangsungan usaha bank (mikro ekonomi),  2. Perlindungan Masyarakat Khususnya masyarakat awawm dan juga masyarakat Kecil,  3. Optimalisasi Peran Lembaga perbankan dalam menunjang Program Pembangunan masyarakat.


MSI Profan Membungkus yang Sakral Ridwan, MA





Profan Membungkus Yang Sakral

Manusia, dalam sejarahnya, telah hidup bersama dengan ragam simbol dan mitos. Dua hal ini tak terkira jumlahnya, diwarisi dan diperbarui lagi sebagai suatu proses penciptaan. Pada akhirnya, manusia dibatasi oleh tanda-tanda, simbol, serta mitos tersebut. Tak terkecuali yang dialami oleh masyarakat beragama di dunia ini, bahkan sebelum modernisme menyeruak. Masyarakat beragama yang maju dengan peradabannya sejak dekade awal Masehi memiliki banyak tradisi, baik yang berdasar pada keyakinan akan alam sekitar, atau hal yang dianggap transendental. Setiap manusia kemudian berduyun-duyun meyakini kepercayaannya, baik yang beragama sesuai keyakinan leluhur, atau mereka yang memilih agama-agama yang kemudian diakui oleh “ruling class”(kelas berkuasa). Agama yang terakhir disebut biasanya  memiliki keleluasaan untuk menikmati ritual agamanya karena mendapat fasilitas tertentu dari kelas berkuasa.
Agama-agama tersebut dalam kehidupan masyarakat hadir dengan sederet ritual, atau sebuah proses penyembahan kepada Yang Kuasa. Salah satunya adalah ritual penyambutan hari raya keagamaannya. Hingga saat ini, tradisi itu pun dilestarikan. Hanya saja, kita bisa menjamin jika terdapat banyak perbedaan dalam memaknai momen tersebut. Antara awal dekade Masehi dengan sekarang, dapat dibayangkan mitos yang digunakan pun berbeda. Mitos tersebut bisa berupa ritual, simbol, hingga atribut yang tak dipahami sepenuhnya. Orang beragama, saat ini, cenderung mengalami distorsi dalam memahami agamanya. Golongan ini biasanya lebih mengutamakan bentuk artifisial daripada pemaknaan yang dalam. Orang lebih bangga dengan menonjolkan ritus seperti tasbih, kitab, dsbnya, agar dia terlihat seperti orang beragam yang taat. Akan tetapi, perilakunya tak lebih taat dari yang kelihatan. Malah mungkin sebaliknya, menunjukkan diri tak lebih baik dari kaum barbar.
Disinilah kita temukan ketegangan antara idealitas merayakan dengan praktiknya dalam kehidupan. Ini yang kemudian bisa kita lihat sebagai hal yang disebut “Sakral” dan “Profan”. Untuk mendefinisikan dua hal ini, kiranya kita dapat merujuk pada pernyataan Mircea Eliade (via Daniel Pals :1996). Menurut ilmuan kelahiran Bucharest ini, apa yang kita dapati di tengah-tengah masyarakat tersebut adalah sebuah kehidupan yang berada di antara dua wilayah yang terpisah; wilayah Yang Sakral dan wilayah Yang Profan. Yang Profan adalah bidang kehidupan sehari-hari, yaitu hal yang dilakukan secara acak, teratur, dan sebenarnya tidak terlalu penting. Selain itu, Yang Profan merupakan tempat manusia berbuat salah. Akan hal tersebut, ada dua hal yang akan disorot dalam hal ini, yaitu dimensi Profan dan Sakral yang dijalani oleh masyarakat kita.
Di Indonesia, perayaan hari besar agama pun juga dilakukan, bahkan terbilang khusus. Bagi agama-agama yang diakui negara, hari raya diekspresikan secara bebas dan terhormat. Sebelum reformasi, hanya ada 5 agama yang diakui dan mendapat tempat layak dalam ruang publik. Pada saat hari raya, aktivitas dihentikan untuk menghormati perayaan tersebut. Baru setelah Gus Dur berkuasa, dimensi minoritas mulai diperhitungkan. Gus Dur menetapkan hari raya Imlek Konghucu sebagai hari libur nasional. Selain itu, Gus Dur juga mengeluarkan kebijakan mengakui Konghucu sebagai agama yang diakui negara. Gebrakan ini menjadi suatu afirmasi terhadap kaum minoritas yang selama ini tidak diakui. Atas kebijakannya tersebut, Gus Dur, yang saat ini telag mangkat, kemudian dikagumi, dihargai, bahkan dihormati sebagai bapak pluralis yang membela kepentingan kaum minoritas. Namun, hal ini masih menjadi langkah panjang dalam kebebasan umat beragama, mengingat masih banyak agama-agama lokal yang tengah berjuang untuk mendapatkan “restu” dari pemerintah.
Kebebasan yang telah dimiliki oleh umat beragama saat ini , sayangnya masih memiliki cacat. Tak bisa dimungkiri jika hari raya besar agama yang menjadi simbol atau ritual cenderung diwarnai dengan pemaknaan yang dangkal. Hal ini bisa terlihat dari cara masyarakat atau golongan yang merayakannya. Idealnya, memang hari raya apapun harus dinikmati, bisa sebagai bentuk syukur, perenungan, atau pijakan menuju hal yang lebih baik.
Ada dua hal mencolok yang kemudian menjadi masalah kaum  beragama saat ini. Pertama, hari raya agama, khususnya di Indonesia menjadi hal istimewa di hati masing-masing pemeluknya. Hingga kesehariannya pun tak bisa lepas dari merayakan. Jika tidak, maka akan menjadi suatu yang janggal, aneh, bahkan cenderung asosial. Tapi, manusia saat ini, yang sebagian besar modern, menjadikannya sebagai ajang “senang-senang”. Sayangnya, hal ini cuma bisa dinikmati oleh golongan tertentu yang memiliki kapital ekonomi.  Kedua, kelomok yang mendaku sebagai kaum beragama tersebut ternyata cenderung belum bisa lepas dari penggunjingan dan kecurigaan terhadap kelompok agama lain.
Hal pertama yang akan dibahas adalah seputar kemegahan perayaan. Hal ini, terutama di Indonesia, tak bisa lepas dari yang namanya kesenjangan karena tida meratanya kapital yang dimiliki. Disini, kita dapat melihat bahwa kapital menunjukkan kelas bahkan strata dalam menikmati hari besar agama. Kesenjangan sosial, menurut Ariel Heryanto (Idi Subandy Ibrahim (ed.) : 2000)), merupakan buah konkret dari sebuah tata masyarakat yang bersifat eksploitatif. Hal ini mungkin-bagi kita-terkesan kontraproduktif dengan proyek modernisme yang didengungkan. Secara prinsip, lanjut Ariel, masyarakat modern mengutuk eskploitasi antarmanusia, dan menyesalkan kesenjangan sosial sebagai akibatnya. Sayangnya, dalam praktik, yang terjadi jauh lebih rumit.
Kita bisa melihat fenomena sederhana di sekitar kita bahwa perayaan agama yang berlebihan justru telah menjadikan kita asosial. Saat perayaan hari besar agama, seperti Lebaran atau Natal, masyarakat menjadi masyarakat konsumtif mendadak. Namun, mereka lupa, bahwa ada segolongan orang yang mungkin gigit jari dari luar toko atau mall karena tak bisa berlaku hal yang sama. Persoalan lain adalah perayaan hari besar mungkin tak terlalu berarti secara harfiah oleh para pekerja toko atau mahasiswa yang tak bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya. Para pekerja yang harus mburuh di toko-nya tak memiliki waktu luang untuk berlibur karena kebijakan perusahaan tempat dia bernaung mengharuskannya masuk kerja. Perjuangan untuk meliburkan hari disaat suatu kelompok agama tertentu merayakan merupakan hak asasi yang harus dipenuhi. Namun, logika modal tak berbicara demikian dan memang menjadi dilematis. Pasalnya, di hari-hari tersebut justru pekerja harus menjalani hari yang super sibuk, karena biasanya orang berbondong-bondong datang untuk berbelanja. Tak bisa dimungkiri pula mahasiswa yang tak bisa mudik atau pulang kampung karena alasan ekonomi memaknai hari raya tidak dengan hura-hura. Mereka, bahkan, hanya membekuk di kamar 3×3-nya untuk “membunuh” waktu agar hari itu cepat berlalu. Meskipun, tak dapat dimungkiri, jika secara sakral masih bisa dinikmati, yaitu hubungan batin antara kawula dan Gusti-nya. Hal ini merupakan suatu yang tidak bisa disentuh oleh individu lain.
Sedangkan hal kedua yang juga perlu perhatian bersama adalah masih kentalnya budaya curiga atau prasangka berlebihan kepada golongan lain. Anehnya, di Indonesia, hal ini susah sekali dihindari, bahkan wujudnya tak hanya berhenti pada curiga, tapi hingga aktivitas kekerasan. Meskipun sudah lebih baik, namun kerusuhan antar-agama bahkan antar-etnis masih menjadi bahaya laten. Bahkan, di hari besar agama, yang notabene sakral, masih diwarnai dengan kerusuhan, tangisan, atau umpatan. Biasanya yang menjadi sasaran atau bulan-bulanan adalah kelompok minoritas atau etnis. Hal ini tak lepas dari masih melekatnya sebuah rezim wacana yang terwarisi. Bahwa persoalan identitas menjadi suatu hal yang krusial dalam melakukan justifikasi atau pembenaran akan kekerasan. Parahnya, identitas tersebut seolah menjadi pembenaran untuk kepentingan yang sesungguhnya, terselubung, ujung-ujungnya sebuah kesenjangan ekonomi.
Aktivitas tak terpuji ini bisa tergolong sebuah eksploitasi sosial, yang biasanya dilakukan dengan cara kategorisasi, melakukan pemilahan, pembedaan, mana yang menjadi kelompok “aku, kita”-dan-“kamu, kalian, mereka”. Ada upaya untuk me-liyan-kan yang lain demi sebuah tujuan tak berbudi. Konflik sosial yang terjadi selama beberapa tahun terakhir bisa saja kita pertanyakan kembali. Mulai dari sengketa antar-etnik, pengrusakan rumah ibadah, hingga pelarangan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Untuk mereduksi emosi dan amarah tak bermanfaat, hendaknya kita harus terlepas dari “wacana tuan” yang menggerogoti pikiran kita. Dalam pemahaman sehari-hari yang mendominasi kehidupan beragam kita adalah dikuasai oleh dogmatisasi. Inilah yang disebut “wacana tuan”, dalam wacana psikoanalisa Jacques Lacan. Wacana ini kemudian membuat kita enggan berpikir tentang kebenaran dan perbedaan yang lain. Pikiran kita menjadi terkungkung dan tidak merdeka. Ibarat kata Minke, dalam novel Pramoedya Ananta Toer, hendaklah berlaku adil sejak dalam pikiran.
Poinnya adalah bahwa perbedaan agama tidak meniscayakan perbedaan visi kemanusiaan. Penghayatan umat beragama yang berbeda, terhadap masing-masing agamanya, diharapkan akan melahirkan semangat iman yang sama, yakni kemanusiaan. Bahwa membunuh-misalnya- adalah persoalan kemanusiaan, bukan persoalan identitas siapa dan apa atau bagaimana yang mengenainya. Golongan yang bersengketa sama-sama berteriak atas nama Tuhan, tapi mereka sendiri menafikkan ajarannya. Keimanan setidaknya tidak punya ruh untuk menertawai atau bahkan membunuh golongan lainnya. Konon, Tuhan tidak perlu dibela. Yang perlu dibela adalah sesama manusia terutama yang mengalami penindasan.
Jika harus membahas mengenai masalah hak asasi manusia, berbagai agama setidaknya bicara mengenai hal itu. Dalam Islam misalnya, ada beberapa hak asasi yang tidak boleh dilanggar, antara lain hak hidup, berkeyakinan, perlindungan terhadap akal pikiran, perlindungan terhadap hak milik, dan hak berkeluarga atau memperoleh keturunan (Masdar F.Mas’udi : 2000). Membincangkan salah satu ajaran agama tertentu, bukanlah berarti terjebak pada satu pemikiran tertentu, dengan menafikkan ajaran lain. Kira-kira pembicarannya bukanlah dari sudut pandang dogmatis, tapi ajaran kritis yang membuat kita berpikir kembali.
Berbicara mengenai streotip, ini mengingatkan kita pada zaman kolonial, salah satu tujuannnya untuk melemahkan kekuatan koloninya. Bila ditelusuri jauh ke belakang, hubungan antara agama-agama di Indonesia pada masa kolonial misalnya, sangat dicoraki oleh kepentingan kolonial. Dalam konteks kolonial, persaingan antar-agama terjadi di tingkat pusat masing-masing kegiatan misioner dari agama-agama tersebut. Saat itu, persaingan antar lembaga agama, terutama yang terkait dengan doktriner terlihat jelas. Sementara itu, pemerintah kolonial Belanda punya kepentingan untuk mencegah bentrokan antaragama. Hal ini terus berlanjut hingga Indonesia merdeka. Seiring waktu, ide mengenai toleransi mulai dikembangkan pada zaman Orde Baru, tapi dengan kepentingan tertentu pula, demi sebuah kestabilan. Meskipun tak dapat dimungkiri jika kekerasan antaragama bahkan etnis pun tak dapat dihindari era itu.
Seorang pembaharu, yang merupakan lulusan Mc Gill University, A.Mukti Ali, menandaskan bahwa manusia beragama dewasa ini tidak bisa hidup menyendiri dalam lingkungan agama yang dipeluknya. Mereka harus bergaul dengan kelompok manusia yang memeluk agama lain (Mohammad Sabri : 1999). Dengan mengenal, maka kita tidak hanya menemukan perbedaan, tapi sekaligus memahaminya. Hal paling mengenaskan dalam suatu konflik, jika itu terjadi, maka orang dapat mengetahui kapan konflik itu mulai timbul, tetapi orang tak bisa menduga kapan konflik akan berakhir.
Agama, dalam penekanannya yang paling layak adalah bersifat universal, bahwa yang lebih penting adalah persoalan kemanusiaan, bukan melulu menonjolkan perbedaan sebagai pembentuk identitas. Akan hal ini, perlu kiranya kita memahami agama sebagai suatu variabel yang konstan (independen). Untuk menjelaskan agama, maka tiada lain selain kita  melakukan perbandingan. Eliade, sangat berempati mengulang ungkapan filsafat Goethe tentang bahasa, , bahwa “seseorang yang hanya tahu satu hal, berarti dia tidak tahu apa-apa”.  Termasuk dalam studi agama, jika tanpa perbandingan, tidak akan ada ilmu yang benar-benar ilmu.
Manusia beragama pun diharapkan memiliki pemahaman yang sama, bahwa perlu memperkaya dirinya dengan pengetahuan akan sesuatu di luar mereka. Dengan demikian, akan ditemukan pemahaman. Mengetahui bukan berarti mematuhi, tapi setidaknya merenungi pengetahuan pada tempatnya. Jika kita sudah merasa mengetahui unutk mematuhi, maka kita akan diperbudak pengetahuan. Inilah kecenderungan manusia modern yang hendak membunuh tradisi yang sudah diwarisi turun temurun. Analogi membunuh tradisi ini dapat kita gunakan untuk melihat keengganan kaum beragama untuk “mengenal” satu sama lainnya. Manusia modern seolah terjebak pada fungsionalitas suatu hal, pada keyakinan bahwa suatu hal harus membawa asas manfaat, atau keuntungan, bukan sebuah pengetahuan.
Lalu, untuk apa kita bergontok-gontokan atau pamer kemewahan dalam kehidupan bernuansa agama? Mungkin, inilah kekhasan manusia dari dunia Yang Profan. Kita cenderung terjebak pada pemikiran bahwa dalam rangka merasakan atau mencari Yang Sakral adalah menemukan lalu mendeskripsikannya.  Padahal bukan itu titik tekannya. Dengan menggunakan konsep Mircea Eliade, kita dapat memahami agama secara fenomenologi. Eliade sangat yakin dengan keindependenan atau keotonoman agama yang menurutnya tidak hanya bisa diartikan sebagai produk “realitas” yang lain. Agama tidak tergantung pada konsep ritual atau simbol artifisial, tapi dia berdiri sendiri. Sebaliknya, manusia lah yang patut memahami bahwa kita dapat mencapai Yang Sakral, dengan menjalani Yang Profan, dalam semangat kemanusiaan.